Menurut Wikipedia : Komputasi awan yang biasa disebut dengan Cloud Computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer ('komputasi') dan pengembangan berbasis Internet ('awan'). Awan (cloud) adalah metefora dari internet, sebagaimana awan yang sering digambarkan di diagram jaringan komputer. Sebagaimana awan dalam diagram jaringan komputer tersebut, awan (cloud) dalam Cloud Computing juga merupakan abstraksi dari infrastruktur kompleks yang disembunyikannya.[1] Ia adalah suatu metoda komputasi di mana kapabilitas terkait teknologi informasi disajikan sebagai suatu layanan (as a service), [2] sehingga pengguna dapat mengaksesnya lewat Internet ("di dalam awan") [3] tanpa mengetahui apa yang ada didalamnya, ahli dengannya, atau memiliki kendali terhadap infrastruktur teknologi yang membantunya.[4] Menurut sebuah makalah tahun 2008 yang dipublikasi IEEE Internet Computing "Cloud Computing adalah suatu paradigma di mana informasi secara permanen tersimpan di server di internet dan tersimpan secara sementara di komputer pengguna (client) termasuk di dalamnya adalah desktop, komputer tablet, notebook, komputer tembok, handheld, sensor-sensor, monitor dan lain-lain."[5]
Cloud Computing adalah suatu konsep umum yang mencakup SaaS, Web 2.0, dan tren teknologi terbaru lain yang dikenal luas, dengan tema umum berupa ketergantungan terhadap Internet untuk memberikan kebutuhan komputasi pengguna. Sebagai contoh, Google Apps menyediakan aplikasi bisnis umum secara daring yang diakses melalui suatu penjelajah web dengan perangkat lunak dan data yang tersimpan di server. Komputasi awan saat ini merupakan trend teknologi terbaru, dan contoh bentuk pengembangan dari teknologi Cloud Computing ini adalah iCloud [6]
Teknologi Cloud Computing (sebuah pendekatan)
Cloud sudah hadir di depan kita saat ini, namun apa itu cloud ? kemana tujuanya ? dan apa resikonya? dan bagaimana organisasi IT mempersiapkan ini ? itulah pertanyaan yang setidaknya akan hadir oleh beberapa praktisi ataupun peminat IT, Cloud computing pada dasaranya adalah menggunakan Internet-based service untuk meng support business process. Cloud service biasanya memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah:
Sangat cepat di deploy, sehingga cepat berarti instant untuk implementasi.
- Nantinya biaya start-up teknologi ini mungkin akan sangat murah atau tidak ada dan juga tidak ada investasi kapital.
- Biaya dari service dan pemakaian akan berdasarkan komitmen yang tidak fix.
- Service ini dapat dengan mudah di upgrade atau downgrade dengan cepat tampa adanya Penalty.
- Service ini akan menggunakan metode multi-tenant (Banyak customer dalam 1 platform).
- Kemampuan untuk meng customize service akan menjadi terbatas.
Teknologi cloud akan memberikan kontrak kepada user untuk service pada 3 tingkatan:
- Infrastructure as Service, hal ini meliputi Grid untuk virtualized server, storage & network. Contohnya seperti Amazon Elastic Compute Cloud dan Simple Storage Service.
- Platform-as-a-service: hal ini memfokuskan pada aplikasi dimana dalam hal ini memungkinkan developer untuk tidak memikirkan hardware dan tetap fokus pada application development nya tampa harus mengkhawatirkan operating system, infrastructure scaling, load balancing dan lainya. Contoh nya yang telah mengimplementasikan ini adalah Force.com dan Microsoft Azure investment.
- Software-as-a-service: Hal ini memfokuskan pada aplikasi denga Web-based interface yang diakses melalui Web Service dan Web 2.0. contohnya adalah Google Apps, SalesForce.com dan social network application seperti FaceBook.
Beberapa investor saat ini masih mencoba untuk mengekplorasi adopsi teknologi cloud ini untuk dijadikan bisnis sebagaimana Amazon dan Google telah memiliki penawaran khusus pada untuk teknologi cloud, Microsoft dan IBM juga telah melakukan investasi jutaan dollar untuk ini.
Melihat dari tren ini kita dapat memprediksi masa depan, standard teknologi akan menjadi lebih sederhana karena ketersediaan dari banyak cloud service.
Akan tetapi Staf IT Belum Siap dengan Cloud Computing
Singapura - Organisasi di berbagai belahan dunia, terutama para perusahaan mulai memikirkan adopsi cloud computing atau komputasi awan. Akan tetapi berbagai tantangan masih menghadang, seperti kesiapan para staf IT dalam menangani komputasi awan ini.
Survei 2011 State of Cloud Survey yang digelar di 38 negara termasuk Indonesia, mengungkap 84% organisasi di wilayah Asia Selatan meyakini manfaat cloud. Namun di sisi lain, mereka masih cemas soal keamanannya.
Survei yang dilakukan pada bulan April sampai Juni 2011 tersebut digelar secara independen oleh Applied Resarch. Diklaim, survei yang menarget perusahaan besar sampai level UKM ini adalah salah satu survei terbesar mengenai cloud computing.
"Kebanyakan organisasi yakin cloud menyediakan manfaat bisnis dan sekuriti. Namun mereka juga memperhatikan layanan cloud mungkin membawa risiko seperti serangan malware dan kebocoran data," ucap Anil Chajravathy, Senior Vice President Storage and Abailability Management Group Symantec di Singapura.
Beberapa organisasi juga merasa belum siap mengadopsi cloud dari sisi sumber daya manusia. Hanya 17% responden yang meyakini staf IT sudah siap menghadapi transisi cloud. Sedangkan 52% responden merasa staf IT mereka belum siap.
Meski cukup optimistis dengan layanan cloud, adopsinya masih rendah terkait beberapa isu tersebut. Dua pertiga responden masih berada dalam tahap diskusi, percobaan dan bahkan belum mempertimbangkan layanan cloud sama sekali. Symantec pun coba memberikan beberapa rekomendasi agar organisasi yang masih dilanda keraguan bisa menerapkan cloud.
Misalnya mempersiapkan staff IT sejak dini dengan berbagai pelatihan serta menganailis tingkat kepentingan sebuah informasi untuk memilih mana yang harus dimasukkan ke cloud.
Sumber : http://teknoinfo.web.id



